Kendaraan Listrik Wajib Punya Suara, Urusan "Safety"

Ilustrasi mobil listrik.

Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan uji tipe baru, yang sudah mengatur kendaraan listrik, pada Permenhub Nomor PM 33/2018. Salah satu yang menjadi poin penting, adalah kewajiban untuk memiliki suara.

Dewanto Purnacandra, Kasubdit Uji Tipe Kendaraan Bermotor Direktorat Sarana Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengatakan, kalau kesenyapan kendaraan listrik itu, sebenarnya membuat masalah baru di jalan, alias tidak berkeselamatan.

Karena sangat senyap jadi tidak safety, apalagi untuk pejalan kaki tidak terdengar ada kendaraan datang. Maka dari itu, kami buat aturan itu sesuai dengan regulasi yang dikeluarkan juga oleh PBB, di mana ada suara minimalnya, tutur Dewanto, Rabu (4/7/2018).

Meski begitu, suaranya juga jangan menyerupai suara hewan atau sirene. Mungkin di beberapa negara suranya tetap serupa kendaraan konvesional. Makin makin cepat mobilnya, makin kencang suaranya, ujar Dewanto.

Berikut bunyi aturan terkait kebisingan di pasal 23 ayat 2 sampai 8.

(2) kendaraan bermotor yang motor penggeraknya hanya menggunakan motor listrik tidak dilakukan pengujian emisi gas buang.

(3) Kendaraan Bermotor listrik untuk memenuhi keselamatan wajib dilengkapi dengan suara dengan tingkat kebisingan dan jenis suara tertentu.

(4) Tingkat kebisingan sebagaimana dimaksud paling rendah 31 desibel dan paling tinggi tidak melebihi ambang batas kendaraan bermotor yang menggunakan motor bakar biasa.

(5) tingkat kebisingan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mminimum sebagai berikut:

a. Pada kecepatan 10 kpj minumum 50 desibel

b. Pada kecepatan 20 kpj minimum 65 desibel

c. Untuk mundur minimum 47 desibel.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel